logo

A Story from Difa Sabila Aska, The Interns 2017
 

Tahun 2017 dan awal dari 2018 adalah tahun emas bagi industri kreatif di Indonesia, salah satunya di bidang musik. Dibandingkan mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang branded dan makan cantik, kaum millennials lebih memilih menghabiskan uangnya untuk datang dan kumpul bersama teman-teman ke acara musik. True? Nggak heran kalau di setiap minggunya ada acara music dengan genre RNB, Hiphop, House, dan sekawanannya di sekitar jalan Senopati, Kemang, dan Kuningan. Bahkan, di setiap harinya, kawasan-kawasan tadi dipenuhi oleh berbagai promo F&B yang dibalut dalam acara live music. It is really fun for sure, tapi sadar nggak sih kalau beberapa bahkan banyak dari mereka terlihat serupa dan ketika kita pulang yang kita inget cuma keseruan sama temen-temen bukan tentang acara yang dinikmati?

 

 

Zaman sekarang, semua orang berlomba-lomba buat bikin acara music buat dapetin profit yang melimpah tapi mereka lupa kalau dalam suatu pembuatan acara ada satu objektif penting yang ga boleh dilewatin, yaitu, customer experience. Apaan tuh? Customer experience adalah momen dimana para pengunjung acara nggak hanya mendapatkan sebatas info dalam kata-kata dari pembuat acara namun juga ketika mereka mendapatkan pengalaman secara langsung yang membuat mereka merasa memiliki keterikatan lebih intim dengan acara tersebut. Hal ini yang bakal bikin para pengunjung menjadi pengikut setia acara tersebut. Kalau sang pembuat acara berhasil melakukan trik ini.... Tring!I They will have their people who will follow them no matter what happens! Kedengarannya menarik, kan? Tapi sebenarnya gimana sih cara menciptakan customer experience?

 

 

Sebagai pembuat acara, kita harus tau objektif dan dasar berdirinya acara kita. Dengan kedua hal tersebut, selanjutnya kita bisa tentukan “apa sih yang kita harapkan ketika para pengunjung datang ke acara kita?” dan juga kita harus berpikir sebaliknya, “sebagai pengunjung, apasih yang kita ingin dapatkan dari suatu acara?”. Kesalahan fatal dari beberapa pembuat acara saat ini adalah ketika mereka merancang acara tersebut mereka hanya memikirkan ego tersendiri dan bukan keinginan dan kebutuhan market yang ia tuju. Alasannya? Pastinya ga jauh dari keinginan akan profit yang besar. Dari kesalahan tersebut, muncul lah akar-akar kekurangan yang akan muncul baik dari di balik layar maupun di hari H acara berlangsung. Seringkali pembuat acara lupa hal-hal yang terbilang kecil tapi sebenarnya punya dampak yang luar biasa. Contoh, A berniat membuat acara musik 90’s dengan mendatangkan beberapa pengisi acara yang justru menyisipkan banyak lagu 2000’an. B yang berniat membuat acara musik dengan tema Indonesia tapi justru menggunakan Bahasa Inggris sebagai dasar penulisan caption di Instagram. Ada juga, C, yang berniat membuat acara dengan 70’s tapi para panitianya pun justru menggunakan baju hype masa kini dan mendekor lokasinya dengan beberapa seni bertemakan future (contoh: Infinity mirror).

 

 

Hal-hal di atas terdengar sepele, bukan? Tapi sebenarnya kumpulan hal tersebut yang bisa menciptakan suasana yang berbeda yang pada akhirnya berpengaruh kepada para pengunjung dan dapat menarik mereka seakan-akan masuk ke dunia yang sengaja diciptakan pembuat acara. Hal-hal di atas lah yang akan menjadi ciri khas atau sebagai point of difference dari suatu acara supaya nggak jadi seragam lagi dengan acara-acara lainnya, jadi, orang pun akan terus tertarik untuk datang karena mereka tau ketika pulang dari acara akan ada hal berbeda yang didapatkan. So, sebagai pengamat industri kreatif, gue menyarankan untuk para pembuat acara bahwa konsistensi dari suatu acara itu merupakan hal yang penting. Semua yang akan lo buat di acara itu harus berdasarkan objektif awal yang telah direncanakan. Selain itu, jangan sampai hal-hal yang dianggap kecil namun berdampak seperti yang disebutkan di atas terlewatkan. Coba bikin gimmick atau cara marketing lainnya yang sesuai konsep tapi bersifat interaktif terhadap para pengunjung supaya customer ecperience tadi tercipta. Maju terus industri kreatif Indonesia, terutama di bidang musik,  because music is half of my life!

SHARE THIS AWESOMENESS!!