logo

A Story from Francesco Satria, The Interns 2017
 

Pengalaman pertama menonton konser dalam hidup gue adalah ketika gue kuliah di Bandung. Dengan iming-iming guest star yang menurut gue saat itu cukup menarik yaitu RAN, HiVi dan beberapa guest star yang gue lupa, pokoknya yang sedang naik daun, gue memutuskan untuk membeli tiket dengan harga yang cukup mahal untuk kalangan mahasiswa rantau kayak gue. Kalau nggak salah, sekitar 150ribu. Ya walau mahal, tapi karena penasaran banget sama yang namanya nonton konser musik yang sejak dari dulu gue cuma liat di TV doang, dan sekarang gue punya kesempatan itu.

 

 

Antusiasme anak-anak kampus gue saat itu sangat gede dengan bukti itu tiket bener-bener habis total dan ketika acara pun, benar-benar padat. Mungkin, karena kampus gue isinya sebagian besar adalah anak rantau, dan punya pemikiran yang sama kaya yang gue jelasin di atas, jadi jarang nonton konser dan jadilah sebuah pemandangan yang menurut gue menakjubkan. Kombinasi musisi yang digemari remaja tanggung macam gue waktu itu, dengan tiket yang membludak, plus sistem acara yang baik, membuat setiap orang akan berdecak kagum bahwa konser ini akan ditunggu untuk tahun selanjutnya.

Yang gue soroti dari ketika gue nonton konser pertama hingga konser setelahnya, misalnya The Sounds Project by Urban GiGs di Jakarta kemarin, ada beberapa kesamaan kaya yang gue bilang tadi yaitu membludaknya penonton dengan sistematik yang sangat baik. Ditambah lagi, deretan musisi yang dipilih sesuai dengan genre yang sedang digemari kalangan muda saat ini, akan membuat suatu awareness penonton naik untuk menanti lagi tahun selanjutnya. Sistematik disini adalah seluruh panitia benar-benar membuat penonton nyaman dan aman ketika penonton menonton konser. Semua berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan ekspektasi gue ketika mengeluarkan satu lembar merah dan selembar biru saat itu.

Hal yang menjadi perbedaan mencolok adalah seperti judul yang gue tulis di atas. Ketika pertama kali gue menonton konser di kampus gue itu, media sosial belum terlalu digandrungi seperti sekarang. Misalnya, Instagram hanya sebatas sebuah platform untuk memposting sebuah gambar hasil jepretan kamera masing-masing. Saat itu, belum ada fitur story-nya, snapchat masih jarang ditemui dll.

Gue datang ke konser, kita masuk, berfoto di depan photobooth untuk sekadar di-upload ke Path (waktu itu Path masih kenceng banget ketimbang Instagram), masuk, mencari spot terbaik, lalu ketika mulai konser pun, semua orang di sekitar kiri-kanan gue dengan khusyuk dan khidmat menonton konser. Semua orang ikut larut dalam lantutan lagu ketika para musisi itu mendendangkan pilihan-pilihan lagunya. Atensi penonton benar-benar tersedot untuk menonton, menyanyi bersama, berteriak bersama, bergoyang bersama dan benar-benar menikmati momen tersebut.

Ketika nonton The Sounds Project presented by Urban GiGs, rasa atmosfer konser sih masih sama. Tapi perbedaan ini terlihat jelas dan kontras ketika semua orang mengangkat ponsel pintar miliknya lalu merekam segala bentuk aktivitas konser di sana. Oke gue juga melakukannya, tapi tidak setiap saat. Gue melakukannya hanya beberapa kali. Merekam sebatas untuk update di insta-story bukan dengan merekam video full selama konser berlangsung. Yang menjadi tanda tanya besar gue adalah karena buat gue, konser itu ditonton, bukan direkam. Memang sih biar ada kenangannya, tapi balik lagi ke tujuan utama diadakannya konser untuk ditonton dan bukan direkam, kan?

 

 

Gue terganggu banget, dengan keadaan di mana semua penonton “beraksi” dengan mengangkat ponsel pintarnya masing-masing lalu jepret sana sini. Posisi gue sendiri, waktu itu,  ada di barisan penonton sebelum akhirnya gue bisa masuk ke depan panggung persis. Gue merasakan penonton di belakang sangat bete, kesal dan pasti ingin sekali menegur penonton di depannya karena sibuk merekam lalu sibuk ngambil power bank karena panik baterainya habis jadi nggak bisa panjat sosial lagi di sosial medianya masing-masing. Ada juga  yang sibuk ngetik sana sini sembari memberikan caption-caption untuk sekedar memamerkan aktivitas mereka saat itu. Oke memang benar, memberi tahu sejumlah aktivitas konser itu menyenangkan, mengasyikkan, tapi setidaknya jangan sampai menggakknggu penonton yang datang kesitu juga. Mereka sama-sama membeli tiket dengan harga yang sama, ingin merasakan atmosfer yang sama, jadi tolong hargai sesama penonton.

Menurut gue pribadi, esensi ketika datang ke sebuah konser adalah menonton dengan mata, bukan layar pijet ponsel. Mungkin karena pergeseran teknologi yang membuat media sosial benar-benar menjadi primadona, semua orang ingin menunjukkan eksistensinya. Padahal mungkin di sebagian benak pengikut media sosial kalian akan menganggap itu sebagai sebuah spam update yang cukup mengganggu. Update di media sosial sendiri sebenarnya bukan masalah yang besar, selama nggak dilarang dalam term and condition konser.  Tapi, rasa excited pas nonton konser itu nggak mengharuskan lo untuk merekam setiap detik performance-nya. Justru, ketika penyanyi di atas panggung, itulah momen untuk merasakan experience menyaksikan aksi musisi favorit lo di atas panggung dan bukan lagi dari speaker gadget lo.

Kaya contohnya nih, konser yang bakal gue tunggu-tunggu yaitu Cheat Codes di SHVR Ground di Jakarta bulan Mei besok. Semoga aja sih yang dating nonton, bakal bener-bener nonton. Bayangin lagi asik-asiknya berdendang “Oh na na, just be careful, na na” tiba-tiba lo harus bilang “promise me… mba maaf tangannya ganggu” nyuruh-nyuruh penonton depan lo biar nurunin hapenya karena asik ngerekam.  Nah, mending coba resapi apa yang retina mata tangkap, kombinasikan dengan mulut yang beradu dengan pita suara sang musisi untuk berdendang bersama, nikmati setiap momen yang kalian rasakan dalam atmosfer itu dan simpan setelahnya dalam memori kenangan masing-masing. Karena momen nonton konser nggakk tiap hari, ini menonton konser, bukan merekam konser, ya kan? Cheers!

SHARE THIS AWESOMENESS!!